Thursday, April 7, 2011
Iman 'Kita", Iman Iblis
Syahdan dahulu kala, ketika manusia pertama kali diciptakan oleh Tuhan, para malaikat diperintahkan sujud kepadanya, dan semua malaikat pun sujud, kecuali iblis. Pembangkangan iblis tersebut menuai kemarahan Tuhan, akhirnya iblis pun ‘dipersilahkan’ untuk menghuni neraka jahanam. Namun, lagi-lagi iblis meminta kepada Tuhan untuk menangguhkan eksekusinya, dan agar diijinkan untuk membawa manusia bersamanya. Dan Tuhan pun mengabulkannya.
Siapa bilang iblis tidak beriman?
Dari riwayat di atas, tidak cukup alasan untuk mengatakan bahwa iblis tidak beriman kepada Tuhan. Bahkan iblis telah lebih dahulu ‘kenal’ dan ‘dekat’ dengan Tuhan dibanding manusia. Iblis percaya bahwa tiada tuhan selain Allah, beberapa ulama menyatakan bahwa ketauhidan yang hakiki adalah ketauhidan yang dimiliki oleh iblis. Mereka hanya mau bersujud kepada Tuhan, dan tidak kepada makhluk apa pun.
Lalu kenapa iblis kemudian mesti menerima ganjaran menjadi penghuni neraka jahanam? Apakah hanya sekedar akibat tidak mau bersujud kepada manusia? Padahal dalam perspektif tauhid sikap tersebut justru amatlah tepat, karena bersujud kepada makhluk lain berarti telah menyekutukan Tuhannya. Atau karena ego Tuhan yang tersinggung oleh sikap tauhid sang iblis, sehingga untuk menutupi ‘kesalahan’-Nya, maka dengan kekuasaan-Nya iblis pun harus menuai derita dengan menghabiskan hidup dan kehidupannya di neraka jahanam.
Bukan karena ego Tuhan, bukan pula karena ia mempertahankan sikap tauhidnya yang membuat iblis dibuang ke neraka jahanam. Iblis layak menghuni neraka jahanam karena tiada ketaatan dalam imannya. Beriman bukanlah sekedar percaya dan yakin, tetapi juga terwujud dalam perbuatan. Taat, tunduk dan patuh terhadap apa yang diimaninya, itulah esensinya beriman. Tiada keimanan tanpa ketaatan.
Iblis hanya tunduk dan patuh pada hal-hal yang ia mau, tetapi ia senantiasa akan membangkang untuk hal-hal yang tidak ia suka. Padahal ketaatan, ketundukan dan kepatuhan harusnya pada hal-hal yang semestinya, bukan pada hal-hal yang dimaui. Bukan merupakan sebuah ketaatan apabila hanya sekedar dilandaskan pada apa yang ‘kita’ mau. Sebuah ketaatan dilandaskan pada apa yang semestinya.
Iblis hanya mau memahami apa yang ia mau, dan menganggap apa yang sudah ia pahami sebagai kebenaran yang sebenar-benarnya. Padahal kebenaran yang ia pahami itu bukanlah kebenaran yang sebenar-benarnya, tetapi hanya sekedar kebenaran yang ia mau atau dengan bahasa lain adalah pembenaran. Alasan iblis untuk tidak mau bersujud pada manusia adalah karena ia memahami (baca: merasa) bahwa ia ‘lebih tinggi’ daripada manusia. Ia sama sekali menampik pemahaman bahwa ia ‘mesti’ bersujud bukan karena ‘kalah’ atau ‘lebih rendah’ daripada manusia, tetapi karena memang itu adalah perintah Tuhan.
Iblis senantiasa mengedepankan kemauan (baca: nafsu) dan menafikan kemestian. Iman iblis hanya dibangun atas sekedar percaya dan sama sekali tidak ada ketaatan di dalamnya. Iblis hanya mau menjalankan kebenaran yang dimauinya, di luar ‘kebenaran’ itu adalah salah. Dengan keimanannya itu bahkan ia melupakan hak dan kewenangan Tuhan sebagai pemilik kebenaran.
‘Kita’-kah Iblis Itu?
Fenomena yang belakangan ini makin trend adalah kegandrungan akan nuansa-nuansa religi, dimana sesuatu yang artifisial seakan menjadi tolok ukur keimanan seseorang. Jubah, atau celana cingkrang ala Michael Jackson, jenggot yang panjang, dan jidat hitam dengan gaya bahasa ane ente sudah menjadi penampakan keseharian di sekitar kita. Tetapi, bukan trend ini yang mengkhawatirkan, karena mungkin itulah salah satu cara untuk mengekspresikan keimanan yang dipahami.
Pemahaman bahwa hanya dengan itu satu-satunya cara untuk mengekspresikan dan mengukur keimanan seseorang, itulah yang berbahaya. Memfinalisasi pemahaman ‘kita’ sebagai kebenaran absolut sama saja dengan gaya iblis beriman. Memaksa orang lain untuk ikut dengan pemahaman yang mau ‘kita’ pahami, menjadi trend yang mengkhawatirkan. Beriman ala iblis menjadi gaya ‘kita’ dalam keseharian.
‘Kita’ mau pemahaman ‘kita’ menjadi kebenaran universal, semua orang mengikutinya, tetapi mungkin bukan begitu ‘mesti’-nya. Sederhananya apa yang ‘kita’ mau belum tentu itu apa yang se-‘mesti’-nya. Sayangnya ‘kita’ seringkali mengikuti apa yang ‘kita’ mau dibandingkan dengan apa yang ‘kita’ mesti. Pemahaman yang ‘kita’ pahami lebih banyak sesuai dengan yang ‘kita’ mau dibandingkan mencoba untuk memahami yang mesti ‘kita’ pahami. Padahal, sebuah keimanan mestilah utuh, dia tidak dilandasi oleh kemauan, tetapi berpijak pada kemestian.
Sebulan terakhir ini, kita makin sering disuguhi pertunjukan iman ala iblis. Mulai dari upaya penyegelan masjid Ahmadiyah di Manislor, pelarangan ibadah HKBP di Bekasi, razia warung-warung makan di siang hari, sampai dengan celoteh Menteri Agama yang akan membubarkan Ahmadiyah sehabis lebaran. Itukah yang semestinya? Atau sesungguhnya hanya yang mereka mau?
Sesungguhnya untuk menyikapi masalah-masalah keumatan yang terjadi dalam keseharian semestinya disandarkan pada ketentuan Allah, dan Rasul-Nya. Apakah Allah dan Rasul-Nya pernah menentukan atau memerintahkan untuk menghancurkan rumah-rumah Allah? Apakah Allah dan Rasul-Nya pernah memerintahkan untuk melarang pemeluk agama lain untuk beribadah? Apakah Allah dan Rasul-Nya pernah menyuruh orang untuk ikut tidak makan ketika ada yang sedang berpuasa? Apakah Allah dan Rasul-Nya pernah memerintahkan untuk memberangus pemahaman yang berbeda dengan yang ‘kita’ pahami?
Jikalau Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintahkan, kenapa ‘kita’ kemudian justru melakukannya? Ketika Rasul-Nya memerintahkan untuk memakmurkan mesjid, kenapa ‘kita’ justru melakukan penyegelan? Ketika Allah berfirman Tiada paksaan dalam agama, kenapa ‘kita’ justru memaksa orang yang berbeda agama untuk tidak menjalankan ibadahnya? Ketika Rasulullah sebagai uswah umat manusia memberikan contoh dengan mengijinkan para pendeta Nasrani melakukan ibadah di mesjid, kenapa ‘kita’ malah melarang mereka beribadah? Ketika Allah mengijinkan orang-orang tertentu untuk tidak berpuasa, kenapa ‘kita’ malah memaksanya? Ketika Allah memerintahkan ber-tabayyun dalam menyelesaikan permasalahan atau perbedaan pendapat, kenapa ‘kita’ justru tidak mau mendengar dan dengan tangan besi (kekuasaan) menyelesaikannya?
Ironis memang, ketika ‘kita’ telah berikrar bahwa keimanan ‘kita’ hanya ditujukan untuk Allah semata, dan meyakini bahwa Rasulullah saw adalah utusan-Nya, pada saat yang sama ‘kita’ juga melecehkan Allah dan Rasul-Nya, karena telah mengabaikan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya, sebagaimana iblis mengabaikan perintah Tuhan untuk bersujud kepada manusia (Adam). Apa yang ‘kita’ mau telah mengalahkan apa yang semestinya.
Lalu apalah bedanya keimanan ‘kita’ dengan keimanan iblis, jika keimanan ‘kita’ pun hanya sebatas pengakuan. Jika ‘kita’ percaya pada rukun iman yang enam, iblis pun percaya itu, bahkan mereka lebih haqul yaqin karena mengalami dan mengetahuinya secara langsung. Keimanan yang hanya sebatas percaya dan hanya mengikuti apa yang ‘kita’ mau, tanpa ketaatan untuk mengikuti apa yang ‘kita’ mesti, itulah iman iblis.
Apakah keimanan ‘kita’ hanya sekedar iman ala iblis, ataukah keimanan yang hakiki. Kaweningan galih (nurani yang bersih) masing-masing ‘kita’ yang dapat menjawabnya secara jujur.Mengutip petuah Maharaja Prabu Niskala Wastu Kancana (Mundinglaya Dikusumah) dalam prasasti Kawali, “pakena kareta bener, prakna gawe rahayu, pikeun heubeul jaya dina buwana, pikeun nanjeur na juritan” - memakai kereta (alat/sarana/jalan/ideologi/ajaran) yang benar, pelaksanaannya dengan kerja nyata (sesuai jalan/ideologi/ajaran yang benar), agar abadi berjaya di dunia, agar menang (dalam) pertempuran (melawan guriang tujuh/hawa nafsu/iblis). Mudah-mudahan ‘kita’ tidak termasuk orang-orang yang beriman layaknya iblis beriman.
Wallahua’lam bishawab
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment