Slider FB-Like

Chat Box

Map
Monday, March 28, 2011

postheadericon Pengertian Aksiologi


A.    Pengertian Aksiologi dan Ilmu
1.         Definisi Aksiologi
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, social dan agama. Sistem mempunyai rancangan bagaimana tatanan, rancangan dan aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap satu institusi dapat terwujud.
2.         Definisi Ilmu
Ilmu adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu scientia yang berarti ilmu. Atau dalam kaidah bahasa Arab berasal dari kata ‘ilm yang berarti pengetahuan. Ilmu atau sains adalah pengakajian sejumlah penrnyataan-pernyataan yang terbukti dengan fakta-fakta dan ditinjau yang disusun secara sitematis dan terbentuk menjadi hukun-hukum umum.
B.     Teori Bebas Nilai
Perkembangan yang terjadi dalam pengetahuan ternyata melahirkan sebuah polemik baru karena kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa kita sebut sebagai netralitas pengetahuan (value free). Sebaliknya ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value bound.
Bagi ilmuwan yang menganut faham bebas nilai kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan akan lebih cepat terjadi. Karena ketiadaan hambatan dalam melakukan penelitian. Baik dalam memilih objek penelitian, cara yang digunakan maupun penggunaan produk penelitian (Bebas Mutlak). Sedangkan bagi ilmuwan penganut faham nilai terikat, perkembangan pengetahuan akan terjadi sebaliknya. karena dibatasinya objek penelitian, cara, dan penggunaan oleh nilai.
Kendati demikian paham pengetahuan yang disandarkan pada teori bebas nilai ternyata melahirkan sebuah permasalahan baru. Dari yang tadinya menciptakan pengetahuan sebagai sarana membantu manusia, ternyata kemudian penemuannya tersebut justru menambah masalah bagi manusia.
Jika dipahami kembali, makna bebas dapat memeiliki dua makna. Pertama, kemungkinan unutuk memilih. Kedua, kemampuan atau hak untuk menentukan subjeknya.
C.     Kebenaran Keilmuan
Sifat ilmu yang tak akan pernah selesai adalah merupakan sama dengan hasrat manusia yang tanpa henti ingin tahu segalanya. Jika dihubungkan dengan etika, manusia ibarat memiliki logos, itu tidak berarti manusia sekedar ditabiati oleh akal. Pada saat tersebut ketika dikumpulkan dengan ethos, maka logos akan berarti sikap hidup yang menyadari sesuatu. Sehubungan dengan ini maka ilmu adalah usaha manusia untuk mendengarkan jawaban-jawaban yang keluar dari dunia yang dihuninya. Semakin garis batas dari ilmu dicari, maka yang tersisa adalah perspektif baru yang membuka hal baru untuk diteliti.
Ilmu lengket dengan keberadaan manusia yang transenden dengan kata-kata lain keresahan ilmu bertalian erat dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia.
D.    Ilmu dan Humaniora
1.         Humaniora
Menurut Elwood, humaniora merupakan seperangkat sikap dan perilaku moral terhadap sesamanya. Definisi ini menyiratkan bahwa manusia merupakan makhluk yang mempunyai kedudukan amung (unik) di dalam ekosistem sekaligus bergantung pada ekosistem itu sendiri bahkan merupakan bagiannya. Karena itu makna humaniora yang mendatar menjadi hubungan trisula: hubungan manusia dengan Khalik ,dengan sesama manusia dan alam, maupun dengan benda mati.
2.         Ilmu
Dalam tulisan ini ilmu merupakan semua pengetahuan yang terhimpun lewat metode keilmuan. Tegasnya pengetahuan yang diperoleh sebagai hasil rentetan daur induksi, deduksi dan verifikasi yang terus menerus tak kunjung usai. (Kemeny, 1959).
3.         Hubungan Ilmu dengan Humaniora
Jika ‘perilaku moral’ da;am definisi humaniora di atas boleh diartikan sebagai perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dasar, maka ilmu merupakan bagian dari humaniora. Karena definisi ilmu juga adalah suatu latihan dalam mencari meresapkan dan menghayati nilai-nilai dasar.
Kebenaran adalah tidak mutlak, tidak samad, langgeng, melainkan bersifat nisbi, sementara dan hanya merupakan pendekatan. Kebenaran yang saat ini dipegang dengan taguh pada masa yang akan datang bisa jadi hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang lebih jati lagi. Atau bahkan kebenaran yang sekarang kita agungkan terpaksa akan dicampakan, sebab ternyata tak lebih dari keyakinan salah.  
n  Budi luhur / Kebajikan (Virtue)
Untuk membuka tabir rahasia keilmuan, diperlukan budi luhur/kebajikan agar kebenaran ditemukan. Budi luhur ini misalnya kapasitas kerja keras, ketabahan, atau kegigihan, ketekunan, kesetiaan pada tugas, keterbukaan untuk bekerja sama, saling mernghargai. Hal ini yang akan mengingkatkan kemampuan manusia untuk berkomunikasi dengan sesamanya dan untuk secara wajar justru menunjukan sikap dan perilaku moral terhada sesamanya dan terhadap dunia alam. Kesediaan untuk belajar saling percaya dan menghargai menimbulkan harapan bahwa dengan bekerja bahu-membahu, memadukan bakat, dana dan sumber daya untuk menangani tantangan, masalah-maslah pokok yang bersifat mondial kita dapat paling tidak berhasil pada taraf pertama: berkomunikasi. Dan berkomunikasi pada hakekatnya adalah tujuan humaniora.
n  Ilmu dan Etika
Berbicara masalah ilmu dan moral memang sudah sangat tidak asing lagi, keduanya memiliki keterkaitan yang sangat kuat. Ilmu bisa menjadi malapetaka kemanusiaan jika seseorang yang memanfaatkannya “tidak bermoral” atau paling tidak mengindahkan nilai-nilai moral yang ada. Tapi sebaliknya ilmu akan menjadi rahmat bagi kehidupan manusia jika dimanfaatkan secara benar dan tepat, tentunya tetap mengindahkan aspek moral.
Dengan demikian kekuasaan ilmu ini mengharuskan seseorang ilmuan yang memiliki landasan moral yang kuat, ia harus tetap memegang moral dan etika dalam mengembangkan dan memanfaatkan keilmuannya. Tanpa landasan dan pemahaman terhadap nilai-nilai moral, maka seorang ilmuan bisa menjadi “monster” yang setiap saat bisa menerkam manusia, artinya bencana kemanusiaan bisa setiap saat terjadi. Kejahatan yang dilakukan oleh orang yang berilmu itu jauh lebih jahat dan membahayakan dibandingkan kejahatan orang yang tidak berilmu (boboh).
Hanya dengan bersikap penuh tanggung jawab etis terhadap masyarakat (baik masyarakat dewasa ini maupun akngkatan-angkatan yang akan datang) ilmu dapat menghindarkan diri dari kehilangan hak istimewanya untuk mengabdi pada kemanusiaan.
n  Berwawansabda dengan Sang Pencipta
Ilmu adalah tidak bergantung pada asas normatif, karena pertimbangan berdasarkan nilai-nilai yang merupakan saripati dari etika dan estetika, terleteak di luar ranah ilmu. Namun, bukan berarti ilmu sama sekali tidak relevan bagi etika dan estetika. Sebabnya ialah, karena bedasarkan pertimbangan berdasarkan nilai saja tidak cukup. Apa guna pertimbangan muluk berdasarkan nilai luhur kalau tidak tahu bagaimana merealisasikan nilai-nilai itu.
Ilmu menyediakan alternatif-alternatif, dan menyediakan pula sarana dan alat-alat untuk melaksanakan alternatif yang dipilih. Dengan berkomunikasi kita dapat menentukan mana yang paling baik dan paling diinginkan banyak orang. Tetapi sekali pilhan itu telah jatuh, maka lagi-lagi tak ada pilihan lain kecuali berpaling pada ilmu untuk mengetahui dan menyediakan jalan dan cara untuk merealisasikan hal tersebut.
Pada kenyataannya setiap usaha kegiatan keilmuan senantiasa berpangkal tolak dari anggapan atau andaian dasar tertentu, termasuk juga yng sifatnya metafisis dan bahwa perspektif iman mempengaruhi pemilihan andaian-andaian itu. Pengembangan selanjutnya karya keilmuan itu tak hanya tergantung pada objek telaahnya saja,yaitu alam, melainkan sampai batas-batas tertentu juga tergantung pada faktor subjektif, yakni individu sendiri beserta falsafah hidup dan keyakinan iman.
Jikalau manusia mau terbuka dan tidak congkak dengan menganggap bahwa manusia berada di strata tertinggi dalam kehidupan, ilmu tidak akan lagi merupakan bagian dari humaniora. Dalam arti bahwa ilmu tak menopang upaya humaniora untuk mencapai tujuannya, yakni memungkinkan insan berwawansabda dengan sang Penciptanya.

0 comments: